Sejarah Kerajaan di Bali

Sejarah Kerajaan di Bali

Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia yang terletak di negara Indonesia. Pulau ini dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, mulai dari pantai berpasir putih, sawah terasering yang hijau, hingga pegunungan dan danau yang menenangkan. Selain keindahan alam, Bali juga memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat, seperti upacara adat, seni tari tradisional, musik gamelan, serta berbagai pura yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Hindu Bali. Keramahan masyarakat lokal serta kuliner khas yang lezat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tidak heran jika Bali sering dijuluki sebagai “Pulau Dewata” dan menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia.

Kerajaan Bedahulu

Kerajaan Bedahulu merupakan salah satu kerajaan kuno yang pernah berkembang di wilayah Bali. sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar pada masa selanjutnya. Kerajaan ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke-10 hingga abad ke-14 dan berpusat di daerah Bedahulu yang kini termasuk wilayah Gianyar. Dalam beberapa sumber sejarah dan cerita rakyat Bali, Bedahulu dikenal sebagai pusat pemerintahan raja terakhir Bali sebelum datangnya pengaruh dari luar pulau. Pada tahun 915, Sri Kesariwarmadewa, yang memerintah kerajaan Bedahulu, berhasil mengembangkan kerajaan dengan menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan Medang (Mataram Kuno).  Hubungan itu ditandai dengan perkawinan putranya yang bernama Udayana Warmadewa dengan Gunapriya Dharmapatani, putrid Makutawangsa Wardhana.

                                  Gambar Ilustrasi Kerajaan Bedahulu.

Menurut berbagai kronik dan tradisi lisan, raja terakhir dari Kerajaan Bedahulu adalah Sri Aji Astasura Ratna Bumi Banten. Pada masa pemerintahannya, kerajaan ini mengalami konflik dengan kekuatan dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh patih terkenal, yaitu Gajah Mada. Penyerangan pasukan Majapahit ke Bali sekitar tahun 1343 menyebabkan Kerajaan Bedahulu mengalami kekalahan. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Bedahulu dan dimulainya pengaruh kuat Majapahit di Bali.

Setelah jatuhnya Kerajaan Bedahulu, Majapahit kemudian menempatkan seorang bangsawan sebagai penguasa baru di Bali, yaitu Sri Kresna Kepakisan. Dari sinilah muncul sistem pemerintahan baru dan berkembangnya kerajaan-kerajaan penerus di Bali yang banyak dipengaruhi oleh budaya dan sistem pemerintahan Majapahit. Hingga saat ini, wilayah Bedahulu masih menyimpan banyak peninggalan sejarah, seperti situs purbakala dan pura kuno yang menjadi bukti kejayaan kerajaan tersebut pada masa lampau.


Kerajaan Karangasem

Setelah tampuk kekuasaan dipegang oleh I Gusti Oka, putra dari Batanjeruk, Kerajaan Karangasem pun berkembang. Sekitar tahun 1611, kepemimpinan pun diwariskan kepada penerusnya, yaitu I Gusti Nyoman Karang ( Raja Karangaem II ). Penggantinya adalah I Gusti Anglurah Ketut Kang (Raja Karangasem III). Ia mempunyai empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dari yang tertua, putra-putrinya ialah I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem. Krtiga putranya didaulat menjadi raja Karangasem IV (Tri Tunggal I). Pemerintaahn ini diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1680-1705. Penerusnya ialah Raja Karangasem Tritunggal II, yang memerintah pada 1755-1801. Setelah Raja Tritunggal wafat, pemerintah dipegang oleh I Gusti Gede Karangasem pada tahun 1801-1806. Saat itu, wilayahnya mencangkup hingga Buleleng dan Jembrana. Setelah wafat, ia digantikan oleh putranya, I Gusti Lanang Peguyangan.

                                        Foto I Gusti Bagus Djlantik, Sumber gambar Wikipedia.

Pada tahun 1827, seorang hulubalang kerajaan, I Gusti Bagus Karang, melakukan pemberontakan dan berhasil merebut tahkta I Gusti Lanang Peguyangan. Namun, saat I Gusti Bagus Karang melakukan penyerangan ke Lombok, pada saat yang sama Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made Karangasem, berhasil menaklukan Karangasem. Ia mengangkat menantunya I Gusti Gede Contong menjadi Raja Karangasem, namun I Gusti Gede Contong tewas dalam perebutan kekuasaan. Saudara sepupu Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Gede Karangasem pun diangkat menjadi penerusnya.

I Gusti Ngurah Gede gugur saat Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20 Mei 1849. Gugurnya I Gusti Ngurah Gede menimbulkan kekosongan pemerintahan di Karangasem. Untuk mengisi kekosongan itu, pemerintah Belanda menobatkan I Gusti Ngurah Ketut sebagai raja. Tak lama berselang, Raja Mataram Menugaskan kemenakanya menjadi raja, yaitu I Gusti Gede Putu yang dikenal sebagai Raja Jemeneng. Menyusul I Gusti Gede Putu, yang memerintah di Karangasem ialah I Gusti Gede Djelantik. Ia memerintah dari tahun 1896 hingga 1908. Ia kemudian diganti oleh I Gusti Bagus Djelantik memerintah dari tahun 1908 hingga 1941.


Kerajaan Gelgel

Kerajaan Gelgel merupakan salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah Bali. Masa kejayaannya sering disebut sebagai "Zaman Keemasan" (Golden Age) kebudayaan Bali, di mana seni, sastra, dan tatanan sosial berkembang pesat.

Kerajaan Gelgel merupakan bagian dari Kerajaan Bedahulu. Pasca-keruntuhan Kerajaan Bedahulu, wilayah ini diperintah oleh Wang Bang Kepakisan. Kerajaan Gelgel bermula dari penaklukan Bali oleh Majapahit pada tahun 1343, yang kemudian memicu penunjukan Sri Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali dengan pusat pemerintahan di Samprangan. Namun, karena terjadi ketidakstabilan politik di Samprangan, putra bungsunya yang bergelar Dalem Ketut Ngulesir memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Gelgel pada akhir abad ke-14. Perpindahan ini menandai babak baru bagi Bali, di mana Gelgel mulai tumbuh menjadi pusat kekuatan politik dan budaya yang mandiri, terutama setelah runtuhnya Majapahit di Jawa yang membuat Bali menjadi pewaris utama tradisi Hindu-Majapahit.

Ilustrasi Gambar Kerajaan Gelgel

Masa keemasan Kerajaan Gelgel tercapai pada abad ke-16 di bawah pemerintahan raja agung Dalem Waturenggong. Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Gelgel meluas hingga mencakup Lombok, Sumbawa, dan Blambangan di Jawa Timur. Periode ini juga ditandai dengan revolusi spiritual dan budaya berkat kedatangan pendeta suci Dang Hyang Nirartha, yang menata ulang sistem keagamaan, kasta, dan arsitektur pura di Bali. Seni lukis, pahat, dan sastra berkembang pesat di pusat kerajaan, menciptakan standar estetika yang hingga kini masih menjadi identitas budaya Bali. Gelgel pada masa itu bukan sekadar kerajaan, melainkan pusat peradaban yang sangat disegani di Nusantara.

Sayangnya, kejayaan tersebut mulai meredup pada abad ke-17 akibat konflik internal dan perebutan kekuasaan. Puncaknya terjadi pada tahun 1651 ketika seorang perdana menteri bernama I Gusti Agung Maruti melakukan pemberontakan dan merebut takhta dari Dalem Di Made. Kudeta ini menyebabkan perpecahan besar di mana banyak penguasa daerah memisahkan diri dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil sendiri. Meski pada akhirnya keturunan sah kerajaan, Dewa Agung Jambe, berhasil merebut kembali kekuasaan pada tahun 1686, ia memilih untuk membangun istana baru di Semarapura. Peristiwa ini menandai berakhirnya era Gelgel dan dimulainya era Kerajaan Klungkung sebagai penerusnya.

Warisan kerajaan Gelgel hingga saat ini, desa Gelgel masih dianggap sebagai desa keramat dan bersejarah. Gaya lukisan Kamasan yang ikonik serta struktur sosial masyarakat Bali modern banyak berakar dari tatanan yang dibentuk pada masa kejayaan kerajaan ini.


Kerajaan Klungkung

Kerajaan Klungkung merupakan kelanjutan langsung dari kejayaan Kerajaan Gelgel. Kerajaan ini berdiri sebagai simbol supremasi politik dan spiritual di Bali, sekaligus menjadi benteng terakhir pertahanan kedaulatan Bali melawan kolonialisme Belanda.

Berdirinya Kerajaan Klungkung (Abad ke-17)

Berdirinya Kerajaan Klungkung pada tahun 1686 dipicu oleh runtuhnya stabilitas di Kerajaan Gelgel akibat pemberontakan I Gusti Agung Maruti. Setelah kekuasaan berhasil direbut kembali oleh keturunan sah dinasti Gelgel, yaitu Dewa Agung Jambe, beliau memutuskan untuk tidak kembali ke istana Gelgel yang dianggap telah kehilangan kesuciannya akibat kudeta. Dewa Agung Jambe kemudian membangun istana baru yang dinamakan Semarapura di wilayah Klungkung. Sejak saat itu, penguasa Klungkung menyandang gelar "Dewa Agung", yang secara tradisional diakui sebagai Susuhunan atau raja tertinggi di antara raja-raja lainnya di Bali (seperti Badung, Gianyar, dan Tabanan).

Peran Sentral dan Budaya

Meskipun secara politik wilayah kekuasaan Klungkung tidak seluas masa kejayaan Gelgel, kerajaan ini tetap memegang peranan sentral sebagai pusat peradaban, hukum, dan agama di Bali. Istana Klungkung menjadi tempat rujukan bagi kerajaan-kerajaan Bali lainnya dalam menyelesaikan sengketa atau menetapkan kebijakan adat. Di bidang seni, Klungkung mewarisi tradisi Lukisan Kamasan yang khas, yang digunakan untuk menghiasi langit-langit bangunan penting seperti Kerta Gosa (balai peradilan). Kerta Gosa sendiri merupakan simbol keadilan di Bali, di mana kasus-kasus hukum besar diputuskan oleh raja dan para pendeta berdasarkan hukum adat dan agama.

Perlawanan Terakhir: Puputan Klungkung (1908)

Akhir dari kedaulatan Kerajaan Klungkung terjadi dalam peristiwa heroik sekaligus tragis yang dikenal sebagai Puputan Klungkung pada 28 April 1908. Konflik dengan pemerintah kolonial Belanda memuncak ketika Belanda berusaha memaksakan monopoli perdagangan dan kontrol politik total atas Bali. Raja terakhir, Dewa Agung Jambe II, bersama seluruh keluarga istana dan rakyatnya memilih untuk melakukan puputan—ritual perlawanan sampai mati demi menjaga kehormatan—daripada tunduk pada penjajah. Dengan bersenjatakan keris dan tombak, mereka menerjang meriam Belanda. Gugurnya sang raja menandai berakhirnya kekuasaan kerajaan tradisional di Bali dan dimulainya era pemerintahan kolonial secara penuh di pulau tersebut.

Warisan Sejarah

Saat ini, sisa-sisa kemegahan Kerajaan Klungkung masih dapat dinilai dari kompleks Kerta Gosa dan Bale Kambang yang menjadi objek wisata sejarah utama di Bali. Semangat perlawanan Dewa Agung Jambe juga diabadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Gambar Kertha Gosa, Sisa Peninggalan Kerajaan Klungkung, Sumber : Wikipedia

 

Sumber Refrensi :

Darmawan Joko, Anwarso Lanang. Mengenal Budaya Nasional Kerajaan Nusantara. 2016. Jakarta : Esensi

 

 

 

 

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permainan Tradisional yang Hampir Punah

ATMA, ARTI DAN FUNGSI SARANA UPAKARA

Kearifan Lokal di Bangli