ATMA, ARTI DAN FUNGSI SARANA UPAKARA


ATMA
Om Swastyastu,
  Atma adalah hidupnya hidup. Ia adalah kesadaran sejati. Kesadaran pikiran berasal dari atma.

        Dalam Upanisad ia disebut atman. Ia adalah Brahman. Brahman atman aikyam, Brahman atman satu adanya. Brahman adalah azas alam semesta, atman adalah azas pribadi. Upanisad memberikan contoh atman azas pribadi. Angota-anggota tubuh meninggalkan tubuh, orang itu masih hidup, namun ketika atman hendak meninggalkan tubuh, anggota tubuh mencegahya, sebab tubuh akan mati. Keberadaan Brahman dapat dialami melalui atman.


Pada dasarnya atman adalah suci, namun setelah bersatu dengan tubuh, iapun kena pengaruh maya dengan segala bentuknya. Atman menikmati wisayanya dan terbawa dalam suka duka hidup. Kesucian atman itu disebutkan dalam kitab-kitab agama Hindu sebagai berikut :
“Ya atman apahata patma vijaro vimrtyur visoko vijighatso’ pipasah satya kamah, satya samkalpah, so’nvestavyah, so vijinasitavyah sa sarvams ca lokan apnoti sarvams ca Kaman. Yas tam atmanam anuvidya vijanati. Iti ha prajapatir uvaca”
                                                             (Chandogya Upanisad VIII.7.1)
Artinya :
Atman bebas dari kejahatan, bebas dari tua, bebas dari kematian, bebas dari kesedihan, bebas dari lapar, dan haus. Yang keinginanya adalah kebenaran, yang  pikirannya adalah kebenaran, yang pikirannya adalah kebenaran. Ia dapat dicari, padanya seseorang dapat berkeinginan unutk memahaminya. Seseorang yang telah menemukan dan memahaminya, ia mendapatkan dunia seluruhnya, keinginan seluruhnya. Demikianlah Prajapati berkata. 

“Naiva stri na puman esa na caivayam napumsakah yad yac chariram adatte tena sa raksyate”
                                                     ( Svetasvatara Upanisad V.10)

Artinya :
Ia tidak perempuan, pun pula tidak laki. Ini juga tidak banci. Apapun badan yang ia ambil, dengan itulah ia didukung.
Demikianlah keterangan Upanisad tentang sifat-sifat atman yang murni.
            Dalam Sivatattwa atman adalah Bhatara Sadasiwa yang utaprota. Hakekatnya ia adalah cetana, kesadaran murni, tetapi karena diliputi maya, maka kesadarannya memudar. Bhatara Sadasiwa yang mulanya sarwajna sarwakarta menjadi tidak demikian lagi. Bhatara Sadasiwa yang demikianlah disebut atman. 

“Sakti ngaranya ikang sarwajna lawan sarwakarta, mari pweka Siwatattwa sarwajna sarwakarta, ya ta sinangguh atman ngaranya.”
                                                (Wrhaspatitattwa, 14)
Artinya :
Sakti itu adalah sarwajna (serbatahu) dan sarwakarta (serbakaya). Berhentilah Siwatattwa itu serbatahu dan serbakerja, ma ia disebut atma namanya. Selama atma bertemu dengan badan, ia lahir di dunia sebagai manusai atau makhluk lain, menikmati suka duka dunia ini.


ARTI DAN FUNGSI 
SARANA UPAKARA

Berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu. Disamping itu pelaksanaan agama, juga dilaksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jyana Marga dapat dibedakan dengan pengertian saja. Namun dalam mengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Ketiga hal tersebut merupakan hal yang tidak terpisahkan. Masing-masing hanya dapat lebih ditonjolkan sesuai kemampuan umat masing-masing.
Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalamkitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disbutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan. Sarana tersebut adalah :
Pattram = daun-daunan,
Puspam = bunga-bungaan,
Phalam = buah-buahan,
Toyam = air suci atau tirta.
        Dalam kitab-kitab lainnya disbutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhupa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa.


ARTI DAN FUNGSI BUNGA

  Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai “sekare pinako katulusan pikayun suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusa ikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan digunakan oleh umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kitab suci.
Ada dua fungsi Bunga yang penting dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul Tuhan (Siwa) dan berfungsi sebagai sara persembahan. Sebagai simbul, Bunga diletakantersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Sedangkan bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Tuhan ataupun rokh suci leluhur.
        Dalam Bhagavadgita Bab IX sloka 26 menyebutkan unsur-unsur pokok persembahyangan yang ditunjukan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa di samping daun, buah, dan air, adapun bunyi sloka tersebut adalah :
Pattram puspam phalam toyam 
Yo me bhaktya prayacchati 
Tad aham bhaktyupahrtam 
Asnami parayatatmanah.
Artinya :
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, bunga, buah-buahan atau air, persembahyangan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci aku terima.
       Dari bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, Bhasma, dan Bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur : bunga, daun, buah, dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tattwa Agama Hindu. Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut adalah :
Canang 
  Dalam persembahyangan canang inilah merupakan sarana yang terpenting, karena ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Kata canang berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang pada mulanya berarti : Sirih, untuk digunakan kepada tamu yang amat dihormati. 
Adapun perlengkapan daripda canang  itu antara lain sebagai alasnya diapakai Ceper, atau daun  pisang yang berbentuk segi empat. Di atasnya berturut-turut disusun perlengkapan yang lain seperti : pelawa ( daun-daunan). Porosan yag terdiri dari salah satu atau dua potong sirih, di dalamnya diisi kapur dan pinang, lalu dijepit dengan sepotong janur di atasnya diisi dengan tangkih atau kojong dari janur yang bentuknya bundar disebut “Urassari” dapat pula ditambahkan dengan pandan harum yang diisi dengan wangi-wangian.

Kewangen
  Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kawangian” lalu disandingkan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman.
Dalam lontar Sri Jaya Kesunu, Kewangen disebutkan sebaga lambang Ongkara. Kewangen dibuat dari daun pisang berbentuk kojong, dilengkapi dengam daun-daunan, plawa, dan hiasan puncaknya digunakan “reringgitan” dari janur berbentuk “Cili” dan disertai dengan bunga. Di dalam kojong tersebut diisi uang kepeng sebanyak dua kepeng, kalau dipergunakan sebagai sarana persembahyangan “porosam silih asih” yaitu terdiri dari dua potong daun sirih diisi kapur serta pinang, sedemikian rupa bila digulung akan tampak satu lembar daun sirih bagian perutnya dan satu lembar lagi bagian punggungnya.
Pada upacara persembahyangan kewangen dipakai untuk memuja Ida Sang hyang Widi Wasa sebagai anugrah.


ARTI DAN FUNGSI API DHUPA DAN DIPA 

Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah jenis harum-haruman yang dibakar sehingga mengeluarkan asap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya merupakan lambang Dewa Agni yang berfungsi :
Sebagai pendeta pemimpin upacara.
Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja.
Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir rokh jahat.
Sebagai saksi upacara. 
  Penggunaan api dalam kehidupan beragama Hindu bukanlah berdasarkan tradisi-tradisi yang diterima dari leluhur turun temurun. Penggunaan api dalam kehidupan beragama Hindu memiliki dasar yang bersumber dari kitab suci Hindu. Dalam kelompok kitab suci wedangga yang terdiri dari kelompok kitab : Siksa, Waykarana, Chanda, Niruka, Joitisa, dan Kalpa.
Kalau dihubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. 


ARTI DAN FUNGSI TIRTHA

Air merupakan sarana persembahyangan yang penting, ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu: Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu : tirtha yang didapat dengan memohon kepada Tuahn dan bhatara bhatari dan tirtha yang dibuat oleh pendeta dengan bentuk puja. 
  Tirtha ini berfungsi unutk membersihkan diri dari kekotoran mauoun kecemarn pikiran. Adapun pemakaianya adalah dipercikan di kepala, diminum dan dusapkan di muka, simbolis pembersiahan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan wija, dan bhasma yang disebut gandhaksa. 
Tirtha bukanlah air biasa, tirtha merupakan benda materi yang sacral dan mampu menumbukhan perasaan, pikiran yang suci. Tirtha adalah sarana agama. Membuktikan kebernaran agama, dasar utamanya adalah kepercayaan.
Kata tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha. Para akhli bahasa dalam kamusnya mengatakan, memberikan arti yang berbeda-beda, namun kalau dicari intinya akhirnya mempunyai arti dan makna yang sama. Para akhli tersebut misalnya Max Muller, Sir Monier William, Y. Kresten Svo. 
Dalam Bahasa Bali, Tata Bahsa Bali, Kamus Bahasa Lumrah, DR. H.N Van Der Tuuk dalam kamus Bali Kawinya, L.Mardi Waristo dalam Kamus Sansekerta, menyebutkan arti kata “tirtha” sebagai berikut : permandian atau sungai, kesucian atau titik air, toya atau air suci, sungai yang suci. Kalau disimpulkan semua arti kata itu mempunyai arti, makna yang sama yaitu tirtha itu menyucikan atau membersihkan. 


DAFTAR PUSTAKA
Sudharta Rai Tjokorda, 1991. Arti dan Fungsi Sarana Upakara. 
Sudharta Rai Tjokorda, 1991. Siwatattwa


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permainan Tradisional yang Hampir Punah

Kearifan Lokal di Bangli