Kearifan Lokal di Bangli


Sejarah Berdirinya 
Puri Tamanbali

           Pada suatu hari disebutkan bahwa Raja Bangli IV yang mendapat julukan I Dewa Anom Sakti menurunkan seorang putri bernama I Dewa Ayu Den Bancingah. Raja Tamanbali menganggap perlu untuk mendekatkan hubungannya dengan kerabatnya di Bangli, dan demikian pula sebaliknya, Bangli merasakan hal yang sama. Jalan satu-satunya untuk mencapai keinginan yang sangat mulia tersebut adalah dengan melakukan perkawinan antara putra Tamanbali dengan putri Bangli.
            Pada suatu hari yang telah ditentukan, diadakan suatu upacara perkawinan antara I Dewa Ayu Den Bancingah putri Bangli dengan I Dewa Anom Rai putra Tamanbali di Puri Bangli. Selanjutnya I Dewa Ayu Den Bancingah dinobatkan menjadi ratu kerajaan Bangli, dan I Dewa Anom Rai diangkat menjadi raja muda (ywana raja).
            Ketika I Dewa Anom Rai kawin nyeburin ke Bangli, diajaknya pula beberapa saudaranya dari Tamanbali, antara lain I Dewa Nyoman rai yang kemudian membangun puri di Bukit, dan I Dewa Raka yang berpuri di Suci (Karangsuci). Dalam konsolidasi kerajaan Bangli menghadapi Karangasem, I Dewa Raka ditempatkan di Undisan, kemudian putra I Dewa Raka kembali ke Bangli. Putra I Dewa Raka yang kembali ke Bangli ini mendapat sebutan nama sesuai nama desa (keparad dening desa), kemudian menyandang nama I Dewa Undisan sampai kepada keturunannya.
            Memang tiada sesuatu yang abadi dalam kehidupan ini. Demikian pula dengan hubungan erat antara Tamanbali dan Bangli yang dimulai dengan ikatan perkawinan I Dewa Ayu Den Bancingah dengan I Dewa Anom Rai, serta dijadikan sentana (kawin nyeburin), jelaslah dimaksudkan untuk merekatkan kembali hubungan  Tamanbali dengan Bangli, yang sebelumnya pernah retak.
            Sekitar 20 tahun kemudian, setelah runtuhnya kerajaan Nyalian, tanda-tanda pertentangan Bangli dengan Tamanbali telah terlihat, akibat dari I Dewa Ayu Den Bancingah jatuh cinta dengan putra asuhnya. Hal itu membuat hubungan Ratu dengan suaminya menjadi dingin. Tanp seijin Ratu, I Dewa Anom Rai mengambil istri lagi. Seorang patih kerajaan bangli yang berkedudukan di Bebalang terpanggil hatinya melihat sang Ratu cekcok dengan sang suami, serta menjalin asmara dengan putra asuhnya. Hal itu dipandang sungguh sangat menyimpang dari sesana tedung jagat. Pada suatu hari menghadaplah I Gusti Wayan Ngurah, seraya dengan hormat matur pawungu (menghimbau) Ratu, agar menyadari bahwa perilaku beliau jauh dari kepatutan.
            Malang benar nasib Ki Patih. Susu yang dipersembahkan ternyata dibalas dengan tuba oleh Ratu. Tak berselang beberapa lama dari saatnya menghadap ratu, datanglah utusan yang membawa perintah Ratu, menugaskan Ki Patih besoknya agar pergi ke desa Sekardadi. Ki Patih menyadari dirinya dihukum berat. Namun demikian hati nuraninya membisiki titah Ratu harus dilaksanakan.
            Sebelum sampai di Sekardadi, I Gusti Wayan bersama pengiringnya disambut oleh mekel Sekardadi. Ternyata mekel Sekardadi ditugaskan oleh Ratu untuk menghbisi I Gusti Wayan. I Gusti Wayan lalu memerintahkan mekel Sekardadi agar melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan amanat yang diberikan oleh Ratu. Sebelum ki mekel menunaikan tugasnya, tak lupa ia memohon ampun kepada I Gusti Wayan, karena tak mampu menolak perintah Ratu. Gusti Wayan pun menyatak dengan ikhlas memaafkannya dan kemudian barulah ki mekel melaksanakan tugasnya untuk menghabisi I Gusti Wayan.
            Setelah I Gusti Wayan Ngurah menjadi korban pertama akibat berani menghimbau Ratu agar jalinan kasih dengan putra asuhnya dihentikan, tidak berselang beberapa lama, suami ratu pun mengalami nasib yang sama.
            Tatkala tengah lelap tertidur bersama istri barunya di lingkungan semanggen datanglah  Ratu dengan keris terhunus di tangan. Dengan cekatan keris Ki Dompo ditancapkan ke tubuh I Dewa Anom Rai, dan berikutnya kebadan istri muda yang tengah teridur dengan lelapnya. Sesuia dengan tempat I Dewa Nom Rai mangkat, setelah sidha dewata, beliau bergelarlah  Bhatara Mantuk Ring Semanggen.
            Tak pelak lagi terbunuhnya I Dewa Anom Rai menyulut amarah Raja Tamanbali. Tamanbali lalu menghubungi Gianyar untuk bersama-sama menghukum Bangli. Ajakan Tamanbali yang sesungguhnya telah dinanti-nantikn oleh Gianyar dalam rangka melanjutkan politik ekspansiniya, menyambut hangat ajakan Tamanbali, untuk menggempur Bangli. Adapun yang diangkat menjadi panglima perang Gianyar adalah Cokorda Mas.
            Di lain pihak I Dewa Ayu Den Bancingah yang tengah dimabuk cinta dengan putra asuhnya, seperti tidak menyadari bahwa bahaya mengintai. Demikianlah pada suatu pagi beberapa kawula dari dari tepisiring menghadap Ratu Bangli, menyampaikan bahwa laskar Gianyar dan Tamanbali telah bersiap-siap akan menyerang Bangli.
            Setelah mendapat berita yang demikian mengejutkan itu, segera Ratu Bangli para pembesar serta kerabat Raja, untuk memutuskan tindakan yang harus dilakukan. Dalam pertemuan itu I Dewa Kuat bersama para pembesar yang lain juga urun pendapat. Ada dua pendapat yang diketenghkan. Pertama, lawan dihadapi dengan segala kemampuan, dan yang kedua kerajaan dikosongkan, serta membiarkan pihak lawan masuk sekehendak hatinya. Pendapat yang kedua ini didukung oleh sang putra asuh I Dewa Kuat, sebab Bangli sama sekali belum melakukan persiapan untuk berperang. Bila hal itu dipaksakan jelaslah peristiwa puputan Nyalian akan terulang kembali menimpa Bangli.
            Demikianlah, tatkala laskar gabungan Gianyar-Tamanbali memasuki wilayang Bangli, hampir-hampir tidak ada perlawanan. Setibanya di alun-alun Bangli keadaanya sepi bagaikan kota mati. Laskar Gianyar segera memasuki Puri Bangli, dan ternyata keraton tidak berpenghuni sama sekali.
            Melihat Ratu Bangli bersama keluarganya telah meninggalkan keraton, Tamanbali dan Gianyar menganggap peristiwa ini suatu kemenangan besar. Kemenangan itu pun diputuskan akan dirayakan elama 42 hari ( abulan pitung dina ). Untuk itu maka setiap malam dipentaskan tarian-tarian bertempat di alun-alun kota Bangli, dalam sebuah wantilan besar, di tempat mana sebagian besar laskar Gianyar berkemah. Sedangkan siangnya diadakan sabung ayam.
            Sementra itu, Ratu Bangli bersama pengiringnya telah beberapa lama menjadi temu prebekel Desa Pengotan, dan telah pula dihadapkan oleh prebekel desa pegunungan yang lain. Ternyata mereka semua itu menyatakan setia kehadapan Ratu dan kerajaan Bangli. Demikianlah, dalam waktu yang relativ singkat, telah berkumpul laskar pilihan yang lumayan jumlahnya, siap menantikan titah Ratu Bangli guna merebut kembali kota Bangli dari tangan musuh.
            Dari telik sandi yang dikirim, Ratu telah mendapat kabar tentang tingkah polah laskar Gianyar yang menduduki kota Bangli, dan diputuskanlah kota Bangli sesegera mungkin akan direbut kembali. Ratu bersama rombongan serta laskar pilihan segera menuju kota Bangli. Pada tengah malam sampailah rombongan tersebut di Pura Kehen. Ratu kemudian mengadakan upacara persembahyangan memohon wara nugraha Ida Bhatara yang bersthana di Kehen agar usaha untuk mengusir musuh tidak mendapat kesulitan.
            Ketika Ratu Bangli bersama rombongan tengah mengadakan persembahnyangan dengan khusyuknya, para prajurit laskar Gianyar yang berkemah di wantilan alun-alun Bangli, hampir semuanya sedang tertidur lelap, kecuali yang tengah bertugas jaga kelihatan di tempat masing-masing tombak siap di tangan.
            Bersamaan dengan rombongan Ratu Bangli tiba di Pura Kehen, di Tamanbali disebutkan pula I Dewa Anom Teka tengah mempersiapkan laskarnya akan menuju Pura Kehen. Sebagaimanan halnya Ratu Bangli, RajaTamanbali pun rupanya mendapatkan informasi dari telik sandinya, bahwa Ratu Bangli bersama pengiringnya telah menuu Pura Kehen. Raja Tamanbali memutuskan untuk menyerang Ratu Bangli hari itu jug, yang didukung oleh I Dewa Manggis Api, yang waktu itu berada di Tamanbali, sedangkan Raja Tamanbali memimpin langsung pasukannya yang akan menggempur Ratu Bangli.
            Setelah laskar Tamanbali sampai di Pura Kehen, kemudian laskar Tamanbali mengurung  Pura Kehen, semua laskar Tamanbali dengan tombak siap di tangan berteriak memberi perintah agar barang siapa yang berada di dalam agar semua keluar. Namun perintah laskar Tamanbali itu sia-sia, karena tak seorang pun bala badwa Ratu Bangli ada di sana.
            Menyadari bahwa Ratu Bangli tidak ada di tempat itu, Raja Tamanbali menjadi bimbang, tidak bisa memutuskan kemana prajuritnya akan dibawa. Raja Tamanbali segera memutuskan untuk kembali ke Tamanbali, melalui jalan yang dilewati tadi malam, yakni areal persawahan di sebelah timur kota Bangli.
            Sesampainya di Puri Tamanbali didapatlah Puri telah kosong. I Dewa Manggis bersama pengiringnya telah pulang tanpa pamit. Hal itu makin menimbulkan tanda tanya besar di hati Raja Tamanbali. Beberapa lama kemudian barulah beliau mendapat kabar bahwa laskar Gianyar yang menduduki Bangli telah dihancurkan oleh prajurit Bangli, bahkan Cokorda dari Mas juga telah tewas.  
            Dalam situasi yang genting datanglah menghadap beberapa orang warga desa Guliang yang menyampaikan bahwa laskar Klungkung yang mengiringi putra mahkota, yaitu I Dewa Agung Putra telah mendekati Blahpane. Mendapatkan laporan seperti itu, tanpa berfikir panjang Raja Tamanbali segera memerintahkan prajuritnya yang baru beberapa waktu tiba kembali dari Bangli untuk menyerang prajurit Klungkung yang hendak menuju Tamanbali.
            Dapat diduga  bahwa laskar Tamanbali yang mendapat perintah untuk menyerang iring-iringan I Dewa Agung Putra Kusamba segera menuju Guliang, untuk menjalankan apa yang ditugaskan oleh Raja Tamanbali dengan patuhnya. Di lain pihak, I Dewa Agung Putra bersama pengiringnya telah melewati titian bambu yang menghubungkan Desa Blahpane dengan Guliang, begitu berpapasan dengan laskar Tamanbali, langsung mendapat serangan, sehingga jatuh korbn. Terutama laskar pengiring yang berada paling depan.
            Tatkala melewati titian bambu dengan berdesak-desakan, karena maing-masing ingin menyelamatkan dirinnya, titian bambu itu pun runtuh ke dalam jurang, termasuk para pemikul tandu dengan Sang Pangeran. Setelah diangkat dari dasar jurang, dan setibanya di Blahpane, I Dewa Agung Putra Kusamba pun  mangkat. Beliau kemudian dikenal sengan sebutan Bhatara Mantung di Blahpane.
            Gugurnya putra mahkota tersebut membuat hubungan Klungkung dan Tamanbali menjadi sangat tegang. Kemudian kelungkung mendekati Bangli untuk untuk bersama-sama menyerang Tamanbali. Ajakan itupun disambut dengan baik oleh Bangli.  Demikian akhirnya Bangli dan Klungkung sepakat bahwa perang terhadap Tamanbali akan dimulai pada hari Kamis Pahing tanggal 7 September 1809. Pada hari itu, pagi-pagi benar teteg agung kerajaan Bangli dan Klungkung telah berbunyi dalam waktu yang hampir bersamaan, dan kemudian diikuti oleh suara kulkul di masing-masing perbekelan, pertanda perang besar akan segera dimulai.
            Di lain pihak pajenangan kerajaan Tamanbali tak berselang beberapa lama juga telah terdengar bunyinya bertalu-talu, menunjukan bahwa kerajaan Tamanbali telah diserbu oleh prajurit kerajaan Bangli dari arah Utara. Demikian pula dari arah Timur datang prajutir Klungkung menggempur laskar Tamanbali. Terjadilah pertempuran yang sangat seru, dengan tak sedikit jatuh korban pada kedua belah pihak.
            Seteleah peperangan berjalan beberapa lama, prajurit Tamanbali tak dapat menahan lajuan serbuan prajurit Bangli, sehingga Puri Gaga jatuh ketangan Bangli. Laskar Tamanbali terus terdesak ke arah selatan, terpusat di sekitaran Puri Tamanbali, dan tak kuasa menahan lajunya laskar Bangli.
            Dalam perang tanding itu. I Dewa Ayu Den Bancingah dengan garangnya mampu menancapkan keris Ki Dompo di dada I Dewa Anom Teka, hingga berakhirlah perang dengan kemenangan di pihak Bangli. Puri Gaga dan Puri Tamanbali akhirnya sina tak berbekas. Para putra Raja Tamnbali yang selamat dari amukan perang lari menyelamatkan diri ke berbagai tempat. Untuk beberapa lamanya terjadi kekosongan di Tamanbali, menunggu situasi normal kembali.
            Tersebutlah ketika perang berkecamuk dulu, salah seorang putra Tamanbali yang masih kanak-kanak diselamatkan oleh I Dewa Nyoman Rai serta dibesarkan di Puri Bukit. Putra Tamanbali ini diberi nama I Dewa Oka Sesa. Untuk mengisi kekosongan di Tamanbali, I Dewa Oka Sesa yang telah dewasa lalu dikembalikan ke Tamanbali. Di suatu lokasi yang dahulu merupakan tempat memelihara kuda kerajaan yang disebut gelogor dibangunlah puri yang kemudian bernama Puri Gelogor.  
            Berselang beberapa waktu kemudian, seorang putra I Dewa Nyoman Rai di Puri Bukit, kembali ke Tamanbali. I Dewa Putu Pande semula membuat puri di Gaga. Namun atas suatu pertimbangan pindah pula ke Tamanbali. Di sebelah utara tempat memeihara kuda yang disebut gelogor masih tersisa tanah kosong, lalu dibangunlah puri dan diberi nama Puri Tamanbali yang masih berdiri sampai saat ini.

Sumber :Buku  Badbad Ksatrya Tamanbali
Oleh : Dewa Ngakan Ketut Acwin Dwijendra
Dewa Ngakan Gede Keramas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permainan Tradisional yang Hampir Punah

ATMA, ARTI DAN FUNGSI SARANA UPAKARA